CerPen: Mimpi Terburuk

Namaku Lifi. Aku anak terakhir di keluarga ini. Usiaku kini 5,5 tahun. Aku tinggal di rumah yang lumayan besar bersama kedua orangtuaku, dua orang kakakku: Tora dan Nena, serta nenek yang selalu menyayangiku.

Aku baru saja selesai membereskan peralatan gambarku. Sejak habis magrib aku telah selesai mewarnai gambar buah apel di buku gambar baruku. Aku selalu melakukan apa yang ibu selalu bilang yaitu membereskan kembali barang-barang seperti sedia kala setelah belajar maupun bermain.

Aku sangat sayang Kak Tora dan Kak Nena. Mereka sangat baik kepadaku. Mereka sering menemaniku belajar dan selalu mengajariku misalnya ketika aku kesulitan memilih warna untuk aku terapkan di buku-buku mewarnaku.

Malam itu suasana di luar rumah tampak tenang. Nenek membuatkan aku susu hangat seperti biasanya. Karena aku paling suka susu hangat buatan nenek. Aku kecup pipinya dan tak lupa mengucapkan terimakasih.

Aku lihat ayah sedang duduk di meja kerjanya. Wajahnya tampak serius. Mungkin ayah sedang sibuk. Akupun tak berani mengganggunya.

Aku kembali ke kamar dan mendapati ibu sudah ada di kamar sambil memegang tasku. Dengan sigapnya dia menyiapkan buku-buku untuk sekolahku besok. 

"Lifi, mulai besok kamu sekolahnya bareng tante Dina gakpapa ya. Ibu besok nggak bisa nganter Lifi", kata ibu tiba-tiba.

Untuk seusia anak TK B yang sekolah dekat dengan rumah, aku merasa tidak ada masalah dengan tawaran ibu. Sekolahku cuma berjarak beberapa blok saja dari rumah. Akupun tidak terpikir untuk menanyakan apa alasan ibu.

"Iya Bu, tenang saja. Lifi kan udah gede. Udah mau SD. Lagian Lifi kan punya banyak teman di dekat sini. Jadi bisa berangkat sekolah bareng-bareng", jawabku dengan enteng.

"Good girl. Memang kamu anak ibu yang pintar dan mandiri", kata ibu sambil memelukku erat dan mengecup keningku.

Aku bergegas membersihkan badan dan bersiap untuk tidur. Seperti biasa, aku tidur bertiga dengan kedua kakakku. 

Mataku masih sulit terpejam. Butuh beberapa waktu lagi buatku untuk tertidur. Ketika masih setengah sadar, aku mendengar ibu membuka pintu kamar kami. Itu salah satu rutinitasnya setiap malam: memastikan bahwa kami semua sudah terlelap. Masih ingat sekali, tampaknya malam itu kak Tora masih asik baca komik sambil tiduran disampingku dan ibu menyuruhnya tidur karena sudah lewat jam 9 malam.
Akupun terlelap dalam tidur yang sangat nyaman.

Beberapa saat kemudian, aku rasakan kepalaku sangat berat. Seperti dihantam benda tumpul yang sangat keras. Aku berusaha bangun dari tidurku. Aku pasti mimpi!

Mataku masih bisa ku buka namun aku hanya bisa melihat dengan samar. Aku dengar ayah, ibu, dan nenek berteriak dari kamar mereka masing-masing. Teriakan yang sangat memilukan.

Aku lihat dua lelaki asing berbadan besar di dalam kamarku, memukul kepala kak Tora dan kak Nena bertubi-tubi tanpa ampun.
Setelah mereka puas memukulinya, terdengar mereka saling berbicara.

"Gong, buruan ambil duit-duitnya. Sama bawa mobilnya nih", kata lelaki satunya sambil melempar kunci mobil.

Aku lihat dengan samar kak Tora dan kak Nena bersimbah darah dengan posisi tengkurap di dekatku.
Aku bangunkan mereka. Aku guncang-guncang badan mereka. Mereka hanya diam. Suara-suara di luar sana tampak semakin mengecil. Hingga akhirnya aku hanya mendengar kesunyian.

"Lifi..Lifi.. Bangun. Ayo berangkat sekolah", tiba-tiba aku dengar suara kak Tora memanggilku. 

Mataku terbuka. Aku mendapati ayah, ibu, nenek, kak Tora, dan kak Nena di hadapanku dengan tersenyum. Ibu mengulurkan tangannya ke arahku. Seraya mengajakku untuk bangun.
Jantungku berdebar kencang. Aku raih tangan ibu dan ku genggam erat sekali. Aku peluk mereka satu persatu. Dengan sangat kuat. 

"Lifi, jangan malas ke sekolah ya. Belajar yang rajin dan kelak jadilah anak yang berguna", kata ayah sambil berbisik.

Tiba-tiba dengan perlahan mereka melepas tanganku. Masih dengan senyumnya, mereka mulai berjalan dengan pelan, hingga semakin cepat dan cepat hingga aku tak tahu mereka pergi kemana.
Aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama mereka berharap agar mereka mendengar. Air mataku menetes dengan derasnya. Namun tidak ada jawaban. Hingga semua kembali gelap.

Tiba-tiba aku mulai mendengar suara dari tempat asing yang aku tak tahu itu dimana. Om dan tante-tante berbaju putih memasang raut wajah khawatir sedang melakukan sesuatu padaku.

"Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan padaku?", tanyaku dalam hati.

"Ibu... Ayah.. Tolong aku!!", aku berteriak.

Orang-orang asing berbaju putih tadi pergi dan kemudian datang sambil membawa sesosok yang aku kenal. Tante Dina. 

"Lifi, kamu gak apa-apa sayang?", tanya tante Dina dengan cemas sambil mendekapku.

"Ada apa tante? Aku dimana? Mana ayah, ibu, nenek, kak Tora dan kak Nena?", tanyaku bingung.

"Kamu di rumah sakit sayang. Udah 3 hari kamu gak sadarkan diri", jawab tante Dina sambil menangis.
Aku masih tak tahu dan bingung dengan apa yang terjadi denganku.

Aku tengok ke segala sudut ruangan  untuk mencari ayah, ibu, nenek, kak Tora, dan kak Nena. Lagi-lagi aku berteriak memanggil nama mereka.

Seketika tante Dina mendekapku.

"Kamu yang ikhlas ya Lifi sayang. Pada saatnya nanti kita akan pergi ke tempat ayah, ibu, nenek, kak Tora, dan kak Nena dan kita akan berkumpul lagi bersama", ucap tante Dina lirih.






----------------------------------------------------------------------------------------------
Rempoa, Ciputat, Senin 17 April 2017 14:51
oleh Ria Antika

Komentar

Postingan Populer